Ini pencitraan yang gegabah, dan berbahaya. Yang aku bicarakan tentang jilbab, rajam, potong tangan, dan sebagainya. Karena datang dari dataran Arab, ada klaim ini budaya Arab. Sehingga, kesan yang timbul adalah ini bukan untuk seluruh manusia, hanya berlaku di zaman tertentu saja. Sedang ketiganya, dan sisa syariat Islam lainnya, tercantum dalam Quran dan Sunnah. Diturunkan pada Rasulullah, nabi kita. Teladan umat manusia. Beliau utusan terakhir. Laa nabiyya ba'da. Lalu, kenapa syariat beliau diperlakukan serupa nabi-nabi sebelumnya?
Betul, sebelum Rasulullah berjumpa Jibril di gua Hira, ada syar-u man qablana. Syariat orang-orang sebelum kita. Di zaman-zaman itu, syariat berlaku hanya untuk nabi dan umat tertentu. Ada dari syariat itu yang tetap dipakai, ada yang diganti. Contoh, pergi haji--ini syariat Nabi Ibrahim, tapi Rasulullah terus mempraktikkan. Contoh yang diganti: membunuh diri sendiri untuk bertaubat pada Ilahi. Itu era Musa 'alaihissalam, sedang syariat Rasulullah tidak sampai demikian. Begitupun jilbab, belum berlaku di masa Nuh hingga 'Isa. Dera dan rajam untuk pezina bujang dan berstatus dalam pernikahan. Dan lain sebagainya.
Nampak beratkah hukum Islam di mata manusia, hingga karena belum sanggup menerimanya, dilabeli macam-macam? Agar "menghilangkan", merendahkan muatan dan ketegasan?
Inilah, ketika manusia memandang hukum Allah dengan perasaan. Bukan dengan keimanan. Memakai pikirmu, memangnya ada secercah bantah untuk Tuhan yang menciptakanmu? Penyangkalan, penolakan, hanya datang dari ubun-ubun yang tidak memahami. Atau, kalaupun mengerti, nafsunya lebih mencengkram. Padahal, jujur kau jawab dalam renungan, apakah Allah menginginkan kejahatan untuk segenap insan?
Sedang Allah mengatakan, sedikit pun tidak menzalimi manusia. Itu tercantum dalam Al Quran. Kalau tiba-tiba pikiran terorientasi kebalikan, ini tanda-tanda kau sedang diembus syaithan. Dan mereka amat licik bermain dengan pikiran. Alih-alih kau selamat dengan logika, justru kau makin tenggelam dalam prasangka. Itu karena, sedari awal, kau memang sudah tidak menerima petunjukNya. Katakan: kalau sudah begini, apa iya Allah kan menyelamatkan? Sedang petunjuk itu sendiri adalah rahmatNya. Kalau kau mau selamat, ya ayat-ayat itu pertolonganNya. Kenapa malah itu yang kau singkir dan tidak percaya?
Syariat, sejatinya, melindungi lima perkara. Lihatlah korelasinya dengan hukuman-hukuman yang sebagian manusia cap kejam dan jahatnya.
Pertama, melindungi dien. Syariat menjaga agar hukum-hukum Islam, Quran dan SUnnah, terjaga kemurnian dan pelaksanaanya. Jika tidak, hancurlah situasi dunia. Lihatlah negeri Barat yang menjadikan HAM sebagai ukuran benar-salah. Bahkan kini, penyanyi berbaju kurang bahan disambut ceria. Zina sudah biasa. Gereja ditinggal jemaatnya. Homoseksual dilegalkan menikah dan memadu rumah tangga. Alamak! Kau mau dunia berubah ke arah sana?
Kedua, melindungi nyawa. Islam menghormati nyawa dan keselamatannya. Karenanya, Islam tegas terhadap pembunuhan. Barangsiapa yang membunuh muslim tanpa alasan yang haq, keluarga korban berhak menuntut setimpal. Bandingkan dengan hukum penjara, yang tidak sebanding dan mengorbankan nilai keadilan. Masa nyawa orang dihukum hanya tahunan? Bahkan seumur hidupnya dipenjara, itu belum sepadan. Begitu pula dengan kezaliman atas fisik dan semacam. Bagi agama ini, umatnya wajib dilindungi. Dijaga kehormatan dan darahnya.
Ketiga, memelihara akal. Islam menghargai kecerdasan. Karenanya, agama ini bisa dipelajari tanpa harus takut pada ilmu pengetahuan. Agama ini menjaga akal kita tetap pada koridornya, tidak berkembang menjadi-jadi. Cobalah tengok orang yang tidak belajar. Ditegur di dalam Islam. Cobalah juga tengok orang yang hanya cuap-cuap tanpa ilmu. Diseru untuk kembali pada Allah dan RasulNya. Sebab akal adalah alat, seperti pisau, yang tergantung cara kita menggunakannya. Kadang, ia dapat bermutasi jadi sesuatu yang sangat jenius, sangat bodoh, sangat mengkhayal, sangat melantur. Semua tergantung bagaimana ia dipelihara. Disiram dan dipupuk. Sehingga, kita dapati Islam memerintahkan umatnya untuk membaca. Iqra'! Untuk tadabbur dan memahami. Tidak ada umat lain yang disuruh cerdas oleh Tuhannya sendiri. Aneh, bukan? Beda dengan Islam. Beda dengan Allah. Dialah yang menciptakan akal. Dialah pula yang paling paham cara menjaga dan menyehatkannya. Allah melarang kita mabuk, karena itu menutupi akal. Allah melarang kita untuk berlebihan, karena itu juga menghancurkan pikiran. Mahasuci Allah, yang tahu yang terbaik untuk kita.
Keempat, melindungi keturunan. Nasab manusia tidak boleh kacau dan berantakan. Sebab bisa jadi kita menikahi orang-orang yang masih terhitung sedarah dan terlarang. Lho, memangnya tidak boleh? Hikmahnya, kau dapat temukan dalam penelitian terbaru. Tentang penyakit dan kesehatan. Begitu pula tentang pelarangan poliandri, Islam melindungi nasab sang bayi. Kenapa ada iddah, Islam melindungi ketidakjelasan usul-asal. Jika Islam tidak menerapkan syariat, betapa banyak manusia yang menikah dengan orang yang harusnya tidak dinikahinya. Mereka juga jadi tidak terkendali dalam masalah siapa yang pantas dipilih, larut dalam perzinaan dengan keluarga sendiri, persis zaman jahiliyah: di mana perempuan dapat didatangi beberapa lelaki, dan bila hamil, semua lelaki yang pernah menzinainya dikumpulkan. Untuk ditunjuk begitu saja siapa bapaknya. Nah, jika ancaman tidak tegas, bagaimana mungkin tercipta masyarakat yang takut pada pergaulan bebas? Buktinya: lihat saja Indonesia. Apa Pancasila berhasil mencegah angka perzinaan anak SMP di tanah air? Apa kurikulum sekolah konvensional berhasil menurunkan angka penderita HIV AIDS? Kelima, melindungi harta. Curi harta, berarti potong tangannya. Korupsi, dari skala kecil hingga besar, terjadi karena remehnya hukum Indonesia. Sekali lagi, hanya penjara. Itupun bisa dibeli dengan harga sekian rupiah. Lalu, kembali bebas menghirup udara. Vakum beberapa tahun, balik lagi tahu-tahu mencalonkan diri jadi wakil rakyat Indonesia. Sedihnya, ingatan politik bangsa kita pikun luar biasa. Mau saja disogok seratus ribu, untuk menderita sampai next pemilu. Ada juga yang berpendapat, ada fungsi keenam. Yakni: melindungi kehormatan. Lihat syariat melindungi wanita. Disuruh tutup auratnya. Karena, jika mereka mengikuti fashion, roknya tambah pendek beberapa senti setiap tahun. Lengannya tanpa pendek dan ukuran bajunya tambah susut saja. Rambutnya makin tak jelas mau diapakan; dicat, disambung rambut orang mati, dipotong serupa laki-laki. Dan masih banyak lagi. Dilarang kita saling caci-maki. Dilarang kita menuduh tanpa bukti. Jika tidak, bisa balik dituntut dan kena hukum syar'i. Kawan, syariat Allah, bagi saya, juga punya fungsi ketujuh. Ia adalah ujian. Di masa lalu, umat-umat terdahulu diuji Allah dengan hukum-hukumNya. Barangsiapa yang menerima, akan naik perahu, seberangi Laut Merah, atau dipanggil hawariyyun yang mulia. Bagi yang membantah, dihantam banjir, ditenggelamkan, ditimba hujan batu, dibenamkan. Sama saja polanya: diturunkan Rasul, diingatkan, menolak, mati dengan mengenaskan, untuk bertemu akhirat yang lebih mengenaskan.
Jika kita memang percaya tiada Tuhan selain Allah. Jika kita memang yakin hari Kiamat itu akan tiba. PembalasanNya sempurna. Jika kita yakin Rasulullah adalah utusanNya. Bahwa beliau adalah juru bicara Allah untuk keselamatan manusia. Maka, tengoklah Al-Quran. As-Sunnah. Islam. Pikirkan: kau bisa menerimanya, ikhlas karena Allah. Atau, tidak ridha atas putusanNya untuk hidup kita di atas dunia.
Ketahui saja: yang ikhlas, itu ada ganjarannya. Yang tidak ridha, ada juga balasannya. Masing-masing kita sedang menuju nasibnya. Kita yang memilih, kita pula yang akan merasakannya. Allah Mahaadil, tak akan salah menilai perjuangan kita....  | apri23 wrote on Feb 14, edited on Feb 14 hmmmmm....saya mau komen banyak..tapi tunggu yang lain dulu deh...... ;)) jadi no coment dulu.... |
| |