<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>                                                  </title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/</link>
<description>Asa Mulchias; lahir di Jakarta, tanggal 5 Januari 1983. Bungsu dari 3 bersaudara ini mulai memperjuangkan karir menulisnya dari tahun 2001. Cerpen perdananya, &#x201C;Aisyah Marpho Amathonte&#x201D;, pertama kali dimuat di ANNIDA tahun 2003. Pasca pemuatan tersebut, alumni jurusan Elektronika Industri dan Komputer, STM Pembangunan Jakarta ini juga berhasil menembus majalah Muslimah, GiZone, dan Cahaya Nabawiy. Masih di tahun 2003, Asa&#x2015;begitu ia biasa dipanggil&#x2015;berhasil menyabet juara ke-5 Lomba Karya Tulis Milad 1 situs www.alhikmah.com dan juara harapan 3 pada Lomba Menulis Cerpen Majalah Ummi di tahun berikutnya, 2004. Berhasil menjadi finalis Lomba ESENSI Erlangga pada tahun 2009 dan menjuarai Lomba Menulis Cerpen Islami Annida pada tahun berikutnya, 2010, tepatnya pemenang kedua. Asa juga menjuarai Lomba Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011, dengan karyanya, &#x22;Mihrab Mercon dan Kontes Wortel 1 Milyar&#x22;.

Selain di majalah, karya-karya fiksi penulis yang profil singkatnya pernah ngintip para pembaca di Leksikon Sastra Jakarta yang diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta (2003) ini juga telah tersebar dan sukses dibukukan barengan penulis-penulis yang lain. Sebut saja: Antologi Mengetuk Cintamu (Senayan Abadi, 2003); Antologi Pilihan The Story of Jomblo (Lingkar Pena Publishing House, 2004); Antologi Addicted 2 U (Lingkar Pena Publishing House, 2005); Antologi Perempuan Bermata Lembut (FBA Press, 2005). 

&#x201C;Kenyang&#x201D; satu buku bersama penulis lain, Asa coba-coba mengirimkan naskah pribadinya jadi buku. Alhamdulillah, di tahun 2005, dua buku fiksinya yaitu Bidadari (MU3 Books) dan Kuntilanak, Here I Come (Lingkar Pena Publishing House) nongol di permukaan bumi. Di tahun berikutnya, yakni 2006, kembali dia hadir menyapa pembaca dalam buku Everytime He Celebrates His Birthday (Syaamil). Novel dwiloginya yang terbaru berjudul Sumpah Ompong di Sekolah dan Umbrah Kadumbrah (Momentum, 2008). Pada tahun 2010, Ia menerbitkan buku berjudul L, sebuah karya kumpulan cerpen remaja yang cadel alias tidak ada huruf R-nya! (DAR! Mizan).

Mantan redaktur majalah LOOK ini ternyata nggak suka hanya berkeliaran di jalur fiksi. Doi lalu mutusin melebarkan sayap ke dunia non fiksi. Alhasil, tulisan-tulisan non fiksi mantan Redaktur ANNIDA ini bisa dibaca di dalam buku Oase Jiwa (Eramuslim, 2005), Jatuh Bangun Cintaku (Lingkar Pena Publishing House, 2005), dan yang terbaru: Cerita Cinta Ibunda (Qanita, 2011). Asa telah ngerampungin beberapa buku non fiksi. Yang pertama: To Be is To Do, To Do is To Be (dengan nama pena Aiman Tashika, Indiva Publishing, 2007), Road to Happiness (Afra Publishing, 2008), Ada Singa dalam Dirimu! (Pro-You, 2008), dan Jiwa-Jiwa Gagah yang Pantang Menyerah (Pro-U Media, 2009). 

Kini, selain menulis, Asa telah menyelesaikan pendidikan D3-nya di ABA Prawira Martha jurusan Bahasa Inggris dan di bawah kepengurusan Badan Pengurus Pusat FLP periode 2009 - 2013. Bagi yang ingin kasih opini, saran, kritik, hubungin aja di email: asamulchias@yahoo.com, FB: Asa Mulchias, Twitter: Asa_Mulchias. 

Salam hangat, Teman-teman! :)
Asa Mulchias
</description>
<pubDate>Mon, 14 May 2012 02:08:11 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Mon, 7 May 2012 02:52:37 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>                                                  </title>
<url>http://multiply.com/mu/asamulchias/logo</url>
<link>http://asamulchias.multiply.com/</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>
<item>
<title>Kawan, Kenapa Kau Tidak Bertanya? Bila Kebingungan dan Resah Landa Jiwa</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/123/Kawan_Kenapa_Kau_Tidak_Bertanya_Bila_Kebingungan_dan_Resah_Landa_Jiwa</link>
<description> &#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/86&#x22;&#x3E; &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/8YOZI9sC7IyVnCL2Q5LxSQ/photos/1M/300x300/86/Kontemplasi.jpg?et=ifGVF6Op98hofLcx6CPzhA&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Bila kita biasakan diri, pasti akan terbiasa pula: lakukan yang dibiasakan. Sesederhana itu rumus kefokusan. Semakin sering, semakin bagus. Semakin rutin, semakin tajam. Semakin mantap, semakin tegar.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Namun kadang, persoalannya bukan apakah itu benar atau salah. Karena, saat kita sudah terbiasa, tak lagi jelas batasnya. Karena, secara emosi dan jiwa, kita telah terlibat di dalam. Sangat sulit untuk objektif di tengah situasi serupa. Lebih sering kita menjadi subjektif. Gunakan sudut pandang pribadi belaka. Dan, benarlah kata-kata berikutnya:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kau hanya melihat&#x3C;br&#x3E; apa yang memang ingin kau lihat....&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Sekali lagi, kuncinya ada di pembiasaan. &#x3C;br&#x3E; Sehingga, pertanyaannya:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; &#x22;Apa yang kau biasakan?&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Repetisi itu obat mujarab. Untuk menjadikan kemunkaran sebagai kebenaran. Ubah kebenaran jadi kejahatan. &#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;Simak:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Hari ini, membicarakan orang lain itu lumrah-lumrah saja. Padahal, di sisi Allah, amat besar bencana. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Hari ini, memakai jilbab lebar itu dianggap berlebihan. Padahal, ada yang pamer aurat be...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/123/Kawan_Kenapa_Kau_Tidak_Bertanya_Bila_Kebingungan_dan_Resah_Landa_Jiwa</guid>
<pubDate>Mon, 7 May 2012 02:52:37 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Payah-payah Manusia, Takdir,   dan di Balik itu Semua....</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/122/Payah-payah_Manusia_Takdir_dan_di_Balik_itu_Semua....</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/85&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/iLowKm0sITdTlJgpimbcsw/photos/1M/300x300/85/success.jpg?et=b5x%2CpFYepbAwK9TQM04PGg&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Kalau dipikir-pikir: apa iya ada hubungan antara hasil dan upaya manusia? Padahal, Islam juga menjelaskan kepada umatnya: takdir adalah kuasa Allah Subhana wa Ta&#x27;ala. Telah tertulis detil-detilnya di Lauh Mahfudz nan luar biasa. Apa yang kita simak hari ini adalah wujud dari yang telah tertera. Dalam kitab yang nyata.&#x26;nbsp;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Lalu, kalau begitu, di mana porsi usaha kita?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Bicara takdir, agak berbelit dan berefek samping bila tak diiringi dengan paham yang benar. Dan, saya dulu pernah alaminya. Di detik kita tahu bahwa: manusia bisa masuk surga, walau dia ahli neraka, bila Allah menakdirkannya mati dalam keadaan ridhaNya. Pun sebaliknya. Lalu, buat apa--mungkin pikir kita--kita berupaya? Toh, pada endingnya, putusan Allah yang selesaikan cerita?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Yang pertama sekali, Allah itu Maha Adil. Tidak mungkin Dia zalimi kita, besar atau kecil. Sehingga, seluruh ide tentang kezaliman yang dinisbatkan padaNya, batil dan dari syaithan adanya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kedua, Allah, dengan keadilanNya, telah membaca manusia-man...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/122/Payah-payah_Manusia_Takdir_dan_di_Balik_itu_Semua....</guid>
<pubDate>Thu, 3 May 2012 03:51:25 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Bila Cinta pada Saudara: JanjiNya tentang Az-Zhilal al-Yaumil Akhir</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/121/Bila_Cinta_pada_Saudara_JanjiNya_tentang_Az-Zhilal_al-Yaumil_Akhir</link>
<description> &#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/84&#x22;&#x3E; &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/avvLgO0oVPxDgPEhm26Y7Q/photos/1M/300x300/84/heart2.jpg?et=1sp%2BLL%2CJG2vXRBkthocChg&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yahya telah menceritakan kepada kami dari Syu&#x2019;bah dari Qatadah dari Anas r.a. berkata bahwa Nabi Saw. telah bersabda, &#x201C;Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.&#x201D; (H.r. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa&#x2019;i)&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Apa maksud tidak beriman dalam hadits ini? Apakah kafir atau bagaimana? &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Maknanya: menunjukkan ketidaksempurnaan iman. Bahwa ciri sempurnanya iman seseorang adalah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan kata lain, hadits di atas menegaskan bahwa di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah bahwa ia mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya sendiri. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kecintaan yang dimaksud di sini termasuk di dalam rasa bahagia jika melihat sesama muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi dan tidak senang jika sesama muslim mendapatkan kesulitan dan musibah yang ia sendiri membencinya. Ketiadaan sifat seperti itu menandakan kuran...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/121/Bila_Cinta_pada_Saudara_JanjiNya_tentang_Az-Zhilal_al-Yaumil_Akhir</guid>
<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 07:43:43 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Filsafat: Tidak Bersalah yang Tidak Ilmiah</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/120/Filsafat_Tidak_Bersalah_yang_Tidak_Ilmiah</link>
<description>&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/83&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/0qRVaGre9YbgC3clXx6egQ/photos/1M/300x300/83/philosophy1-book.jpg?et=zVZkTgl%2C46x%2CC9YMtRbQYw&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Bismillah...&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kali ini tentang filsafat. Disiplin yang jadi salah satu ujung tombak pemikiran bebas. Baik, kita bahas sedikit dimensi-dimensi bantahannya. Sebab, ilmu ini dibela para punggawanya juga dengan cara yang lucu adanya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Klaim-klaim mengenai filsafat itu baik, biasanya, disandarkan pada ulama yang mempelajari filsafat. Tapi, anehnya, pelajaran agama lainnya, yang dipelajari ulama tersebut, tidak diakui dan dibantah--misalnya ilmu tafsir Quran, hadits, dan sebagainya. Parsial, itu namanya. Ini argumentasi pertama.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kedua, ulama yang pelajari filsafat, coba selidiki, mengawali pelajaran dalam keIslamannya dengan belajar Quran terlebih dahulu. Bukan filsafat. Filsafat dipelajarinya setelah kepalanya diisi dengan pelajaran syar&#x27;iyyah. Jika mau main fair, pelajari dahulu ilmu-ilmu syar&#x27;iyyah, baru &#x22;mengambil&#x22; nama ulama tersebut dan berpandangan tentang apa itu filsafat.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Ketiga, filsafat, ada yang mengatakan, itu tidak salah. Sebab filsafat hanyalah pisau, sedang pembunuhan terjadi k...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/120/Filsafat_Tidak_Bersalah_yang_Tidak_Ilmiah</guid>
<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 01:36:59 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Bagi Mereka, yang Tak Lagi Jadikan Hadits sebagai Pijakan dan Tuntunan</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/119/Bagi_Mereka_yang_Tak_Lagi_Jadikan_Hadits_sebagai_Pijakan_dan_Tuntunan</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/82&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/ZtsWIZesgqIOuErWNNkfGw/photos/1M/300x300/82/Shahih-Bukhari.jpg?et=9kOiyFpJsFUaIa5ETlTP3w&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Beberapa orang mempermasalahan periwayatan hadits, sehingga putuskan: tidak jadikan dia pegangan dalam kehidupan. Dalam bertindak, beramal, dan menafsirkan Al-Quran. Ada kecendrungan untuk menjadikan Quran sebagai satu-satunya pegangan. Dan untuk memahaminya, mereka jadi mufassir dadakan. Padahal belum lagi mereka hafal Al Quran. Tahu asbab-asbab turunnya. Paham al-Lughah Al-&#x27;Arabiy. Langsung saja maknai dari terjemahan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Baik. Kalau mau fair, kita cross-check dengan Al-Quran. Satu-satunya sumber yang mereka &#x22;yakini&#x22; benar. Tentang perlunya hadits, agar sampai pada Allah di hari perhitungan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Satu, bahkan Allah, lewat Al-Quran, tetapkan Rasulullah sebagai teladan. Yang tindak-tanduk dan katanya cerminkan Islam. &#x22;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#x22; (Q.s. Al-Ahzab [33]: 21)&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Dua, kita diperintahkan mengikuti apa pun yang disabdakannya, pat...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/119/Bagi_Mereka_yang_Tak_Lagi_Jadikan_Hadits_sebagai_Pijakan_dan_Tuntunan</guid>
<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 03:20:13 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Yahudi: Ironi Umat Pintar yang Meniru Sejarah Syaithan</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/118/Yahudi_Ironi_Umat_Pintar_yang_Meniru_Sejarah_Syaithan</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/81&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/-CqR-JFjh4YwN+FfXxNiLA/photos/1M/300x300/81/Yahudi.jpg?et=eZi6dgckH8yxPArKTjtT3w&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Yahudi dikutuk. Mereka, jika kau simak sejarah, tak punya tanah berdiam. Padahal, bangsa-bangsa berkulit kuning-merah-hitam, yang mereka hina, miliki bumi tempat tinggal. Sedangkan anak-anak Israel itu terusir. Dari masa Babilonia. Yerussalem. Dan dari Eropa. Bukan karena dizalimi. Tapi lantaran ulah mereka sendiri.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Padahal, jauh hari, Allah pernah angkat martabat bangsa ini. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; DiabadikanNya dalam Al-Quran, &#x22;Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Al-Baqarah. Ayat ketiga sebelum dua lima puluh. Ayat yang jelaskan: kenapa Allah sempat memuliakan. Sebab, di masa dahulu, Bani Israil pernah menjadi satu-satunya bangsa yang beriman. Ketika umat lain terjebak dalam chaos dan pagan, mereka mengakui Allah sebagai The Only One. Bukan karena Yahudi itu berotak pintar. Bukan karena mereka pandai bersilat lidah dan memperpanjang akal. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Bukan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Bukan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Sama sekali bukan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Kisah mereka, pada ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/118/Yahudi_Ironi_Umat_Pintar_yang_Meniru_Sejarah_Syaithan</guid>
<pubDate>Wed, 4 Apr 2012 07:01:01 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Bila Suatu Hari, Temanmu Memarahimu...</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/117/Bila_Suatu_Hari_Temanmu_Memarahimu...</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/80&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/9d22LsqibIXRy8Fd2pvHAA/photos/1M/300x300/80/mentoring-siswa-sma.jpg?et=etT2sM0AiAoiBkoZpgWDdQ&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Lihatlah teman yang memarahimu. Bukan kepada marahnya, tapi tentang alasan: kenapa dia marah. Tidak semua orang marah itu layak dibenci. Tidak juga semua orang yang tak pernah marah itu pantas dicinta.&#x26;nbsp;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Jika ada yang memarahiku karena kebenaran, dialah sahabat yang Allah kirimkan. Yang tegurku agar selalu di jalan yang benar. Yang ingatkanku di kala salah. Yang menjewerku, memaksaku ingat pada Ilah yang Rahmah...&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Tidak ada alasan untuk membencinya. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Sebab sahabatku... marahnya telah mengembalikanku. Pada Allah Swt. yang satu. Lalu, untuk alasan yang mana aku harus menjauh? Memusuhi dan memutuskan persaudaraan kami? &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Pun ia, setelah memarahiku, tak memperpanjang masalah. Dia kembali tersenyum. Dia memaafkan. Kembali bercanda dan menemani hari-hariku. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Itu belaka tanda:&#x3C;br&#x3E; Beberapa waktu yang lalu, dia marah karena peduli. &#x3C;br&#x3E; Jika ia masa bodoh dengan kebaikanku, dia akan diam saja. Terus saja membiarkanku memilih yang buruk. Mendiamkanku yang terus-menerus ke jurang kebobrokan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Dialah s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/117/Bila_Suatu_Hari_Temanmu_Memarahimu...</guid>
<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 01:26:33 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Aurat Laki-laki: Benarkah Hanya Kubul dan Dubur?</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/116/Aurat_Laki-laki_Benarkah_Hanya_Kubul_dan_Dubur</link>
<description> &#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/79&#x22;&#x3E; &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/EqO9qOOG23yfxKvqdRuv2g/photos/1M/300x300/79/close-eyes.png?et=t1yYPwVE1sUc7dQqVd%2CZ7w&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Ukuran aurat sebenarnya nampak pada batasan-batasan ketika shalat didirikan, baik laki-laki dan perempuan. Ketika para ulama sepakat mengenai aurat perempuan, terjadi perbedaan pendapat, untuk laki-laki.&#x26;nbsp;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pendapat pertama, yang mengatakan wajib ditutupi dari laki-laki hanya kubul dan dubur. Dalihnya, hadis dari Aisyah, di mana Rasulullah pernah duduk di dalam rumahnya, terlihat pahanya. Ketika masuk Abu Bakar, Rasulullah membiarkan pahanya terlihat. Pun saat masuk Umar, Rasulullah membiarkan. Tapi ketika masuk Utsman, barulah ditutup. Ditanya Aisyah, kenapa demikian? Rasulullah menjawab, &#x22;Bagaimana aku tidak malu dengan seseorang yang malaikat pun segan padanya?&#x22; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dari hadits ini, bila dibawa ke ranah fiqih, seandainya bila itu aurat, maka tidak mungkin Rasulullah membiarkannya dilihat Abu Bakar dan Umar. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pendapat kedua, batasnya antara lutut dan pusar. Dalihnya, Rasulullah pernah melewati seorang sahabat, yang terlihat dua pahanya. Lalu Rasulullah bersabda padanya untuk menutup p...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/116/Aurat_Laki-laki_Benarkah_Hanya_Kubul_dan_Dubur</guid>
<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 01:56:35 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Karena Allah-lah Segala Harapan Bangsa...</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/115/Karena_Allah-lah_Segala_Harapan_Bangsa...</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/78&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/rplJeWQx9KNe6+DRgNi4eA/photos/1M/300x300/78/soft-morning.png?et=CbSu2JxU6UT0BatzCxfiyw&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Banyak realita negatif. Banyak prasangka buruk. Banyak berita-berita yang menggerus optimisme. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Menghasilkan: manusia yang tidak punya harapan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Ya Indonesia, sebobrok apa pun sebuah negeri, selama Allah menjadi Tuhan kita, kenapa rela hati digerus keputusasaan?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Sesungguhnya, ranculah seorang muslim yang berkata, &#x22;Tidak mungkin akan perubahan.&#x22; Karena Allah, seolah, terlupa dari pernyataannya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Pintar-pintarlah menjaga harapan. Menjaga sikap dan kata. Karena kita bicara tentang Mahakuasa-nya Allah atas segala perkara. Termasuk memulihkan diri tanah air kita dari segala durja.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Dari awal, karenanya, jangan kau bergantung pada manusia. Sehebat atau sesalih apa pun dia. Kau bisa mulai dari berdoa, lalu minta petunjukNya. Kepada siapa Allah lebih ridha untuk memimpin bangsa. Kesalahan kita adalah terlalu banyak makan berita televisi dari membaca kalam Ilahi. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Perhatikan: apakah ada sejarahnya dalam Al-Quran, Allah membiarkan satu bangsa tanpa seorang pahlawan?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Indonesia pun demikian. Sekarang...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/115/Karena_Allah-lah_Segala_Harapan_Bangsa...</guid>
<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 09:49:50 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Penyakit Mengadili: Beban yang Dipaksakan</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/114/Penyakit_Mengadili_Beban_yang_Dipaksakan</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;Verdana&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/77&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/WUA0vykyj+a9UCulA+W-eA/photos/1M/300x300/77/Burden.jpg?et=7MszRePLX%2BF7nfPHU%2Bm1oA&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Sudah lumrah, walau termasuk dosa besar. Ghibah, membicarakan orang. Nabi bilang, itu serupa memakan bangkai saudara sendiri. Bukan hanya perempuan, juga laki-laki. Sebab ini bukan persoalan gender, tapi akhlaq. Ini masalah pendidikan, menyoal penyakit dan tidak mau berbenah diri.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Misalnya, kau sadar: kau adalah orang yang mengoleksi banyak dosa. Sangat-sangat sadar, sehingga mungkin saja kau mengira akan masuk neraka. Masih adakah inginmu membicarakan dosa orang lain? Seolah-olah dia lebih jelek darimu. Lebih buruk amal dan nasib akhirnya nanti.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Perhatikan: orang-orang yang suka membicarakan aib orang, tabiat dan perangai, bahkan tak segan memperluas masalah hingga mengarah fitnah. Mereka sepertinya tidak sadar: dirinya belum tentu lebih baik dari orang yang dibicarakan.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Mungkin kita jarang introspeksi.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Mungkin kita lupa mengorek-orek kesalahan sendiri.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x26;nbsp;Jadinya terkubur anggapan pribadi:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; &#x22;Tidak ada masalah dengan diri saya. Tidak mengapa saya mengadili. Orang lain yang salah dan ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/114/Penyakit_Mengadili_Beban_yang_Dipaksakan</guid>
<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 07:37:57 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>From Nothing, Moving, Amazing!</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/113/From_Nothing_Moving_Amazing</link>
<description> &#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/76&#x22;&#x3E; &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/P4+rClD43J1dzcQt7e8Sng/photos/1M/300x300/76/zero.jpg?et=mKyBeSHFPWuzZj8V5mXnuA&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E;Bagi sejumlah insan, remehkan diri dan komparasi dengan sukses orang itu menyakitkan. Komedinya, entah kenapa, tetap saja diulang-ulang. Terutama ketika disodori status kegagalan. Yang menyudut, yang ditagih penjelasan orang-orang. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E;Yang kemudian kerap terjadi: terlontar beberapa keterangan. Bayan: kenapa kita tidak sehebat orang lain. Sewajar dan semasuk akal mungkin. Tujuannya terang: menghindari cecaran dan perspektif orang lain. Jaga sedemikian rupa citra. Agar tidak hancur, berkeping-keping. Tetap terlihat terhormat, walau batin digedor-gedor omongan paling nyaring. Pembenaran, pembenaran. Tidak lebih dari sekadar bermanis kata di depan para hadirin.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;trebuchet ms&#x22;&#x3E; Memang tidak mudah hidup di dunia yang gemar mengomparasikan. Situasi ini sebabkan mutasi diri, tumbuh-suburnya keyakinan. Bukan yang bagus, malah yang minus. Orang-orang yang sukses, jelma jadi raja-raja kecil yang pongahnya bikin muak. Sedang para kontestan yang belum beruntung, didera rasa pesimis dan rendah. Diri-diri berputus as...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/113/From_Nothing_Moving_Amazing</guid>
<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 02:07:27 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Tragedi Apa yang Kausebut Persahabatan Sejati... (Untuk Semua yang Merasa Telah atau Belum Menemukannya)</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/112/Tragedi_Apa_yang_Kausebut_Persahabatan_Sejati..._Untuk_Semua_yang_Merasa_Telah_atau_Belum_Menemukannya</link>
<description> &#x3C;h6 style=&#x22;font-family: georgia,times new roman,times,serif;font-weight: normal;&#x22; class=&#x22;uiStreamMessage&#x22; data-ft=&#x22;{&#x26;quot;type&#x26;quot;:1}&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/75&#x22;&#x3E; &#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/lPlmonxdDuwRZsu+1AMeBQ/photos/1M/300x300/75/friendship.jpg?et=m4Xei2WixaUTjDn32Ggkvg&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Coba kau ulang namanya, orang-orang yang  kausebut teman tuk jiwa. Lalu, telusuri sejarah pertama kali kau jumpa.  Rekam jejak perjalanan. Hingga akhirnya kau membuatkan satu ruang dalam  hati. Khusus untuk mereka. Menyebutnya sebagai sahabat. Saudara. Mungkin  lebihi ikatan darah semacamnya. &#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Kini, ajukan satu pertanyaan  untuk dirimu. Tak perlu verbal, jawab saja setulus agar tak ambigu.  Untuk alasan apa, sebenarnya, nama-nama itu demikian istimewa? Demikian  berarti di relung qolbu?&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x26;nbsp;Tentu, semua orang punya alasan. Dan,  memang itu yang kita tengah perbincangkan. Tentang alasan yang dipakai  untuk menggodok keputusan. Sebab, perkara yang dibahas bukan sembarang.  Tidak tahukah dirimu Islam amat menggarisbawahi persahabatan? Jika di  luar sana, ada bagian manusia menjunjung tingginya, dalam dien ini, kata  itu jauh lebih bermakna. Sehingga, walau diksinya sama, tidak sama cara  memprosesnya.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x26;nbsp;Sehingga, perhatikan... kembali ke pertanyaan.  Untuk apa kau menyebut seseor...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/112/Tragedi_Apa_yang_Kausebut_Persahabatan_Sejati..._Untuk_Semua_yang_Merasa_Telah_atau_Belum_Menemukannya</guid>
<pubDate>Thu, 8 Mar 2012 15:46:32 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Ketika Benci dan Cinta tanpa NamaNya...</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/110/Ketika_Benci_dan_Cinta_tanpa_NamaNya...</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/74&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/uVfVTfkZ-rhJMtVD2z3jCA/photos/1M/300x300/74/the-origin-of-hatred-1.jpg?et=AWQIKHZYb8OzgP9btXecyA&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Iman itu, kata para ulama, mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, diaplikasikan dengan perbuatan. Dengan kata lain, tidak mungkin seorang itu dikatakan beriman kecuali dibuktikan dengan amal. Ketika seorang mengaku beriman, tapi masih banyak melakukan pelanggaran, berarti imannya belum sempurna. Tidak semua orang yang mengaku muslim itu beriman, tapi orang yang beriman itu pasti muslim.  &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Nah, salah satu tanda kesempurnaan iman adalah mencinta. Pada saudaranya, yang beraqidah sama. Disatukan oleh syahadah padaNya. Rasulullah berkata, &#x201C;Tidaklah termasuk beriman seseorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.&#x201D; (H.r. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa&#x2019;i) &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Biasanya, ketika sampai pada kata &#x22;cinta&#x22;, langsung variatif tafsirnya. Padahal, yang dimaksud dengan &#x22;mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri&#x22; di atas adalah rasa bahagia jika melihat sesama muslim mendapatkan kebaikan yang ia senangi dan tidak senang jika se...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/110/Ketika_Benci_dan_Cinta_tanpa_NamaNya...</guid>
<pubDate>Tue, 6 Mar 2012 09:57:17 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Tafsir Sekarep Congormu</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/109/Tafsir_Sekarep_Congormu</link>
<description>&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/73&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/Sfpr3V9B9tSS2-Y1rLVSww/photos/1M/300x300/73/mulut-besar.jpg?et=y3P1CBQOumrQ5YzloXECZg&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Fiqih itu produk dari proses ijtihad ulama. Ketika ulama berijtihad, dia membutuhkan perangkat-perangkat untuk menghasilkan hukum. Ini yang dimaksud dengan ushul fiqh. Demikian juga dengan penafsiran Quran. Untuk mendapatkan kesimpulan hukum yang terjandung di dalamnya, hikmah-hikmah, pesan-pesannya, maka para mufassir juga memiliki perangkat. Ilmu ini adalah Ulumul Quran.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;Secara global, dari beraneka macam penafsiran Quran di dunia dan melintas berbagai generasi, ada dua tipologi penafsiran yang berkembang: tafsir bil ma&#x2019;tsur, tafsir bir ra&#x2019;yi. Tafsir bil ma&#x2019;tsur adalah tafsir dengan menggunakan riwayat-riwayat shahih (benar), dan biasanya menggunakan ayat-ayat Quran lainnya untuk menjelaskan ayat yang tengah ditafsirkan. Itupun dengan syarat, antara ayat-ayat yang dikaitkan itu harus memiliki kaitan. Tafsir ini juga mengguakan hadits-hadits Rasululullah, yang mana sebagiannya memang disabdakan untuk menafsirkan ayat-ayat Al-QUran, dan menggunakan pendapat para shahabat. Sehingga seba...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/109/Tafsir_Sekarep_Congormu</guid>
<pubDate>Thu, 1 Mar 2012 02:59:40 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Syariah dan Manfaatnya untuk Umat Islam di Dunia</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/108/Syariah_dan_Manfaatnya_untuk_Umat_Islam_di_Dunia</link>
<description>  &#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;  &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/PYPupygfLouDMU+CghOzoA/photos/1M/300x300/72/seven-logo-large1.jpg?et=9HupUlPyrUbRoKYCoB4LQQ&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Ini pencitraan yang gegabah, dan berbahaya. Yang aku bicarakan tentang jilbab, rajam, potong tangan, dan sebagainya. Karena datang dari dataran Arab, ada klaim ini budaya Arab. Sehingga, kesan yang timbul adalah ini bukan untuk seluruh manusia, hanya berlaku di zaman tertentu saja. Sedang ketiganya, dan sisa syariat Islam lainnya, tercantum dalam Quran dan Sunnah. Diturunkan pada Rasulullah, nabi kita. Teladan umat manusia. Beliau utusan terakhir. Laa nabiyya ba&#x27;da. Lalu, kenapa syariat beliau diperlakukan serupa nabi-nabi sebelumnya?&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Betul, sebelum Rasulullah berjumpa Jibril di gua Hira, ada syar-u man qablana. Syariat orang-orang sebelum kita. Di zaman-zaman itu, syariat berlaku hanya untuk nabi dan umat tertentu. Ada dari syariat itu yang tetap dipakai, ada yang diganti. Contoh, pergi haji--ini syariat Nabi Ibrahim, tapi Rasulullah terus mempraktikkan. Contoh yang diganti: membunuh diri sendiri untuk bertaubat pada Ilahi. Itu era Musa &#x27;alaihissalam, sedang syariat Rasulullah tida...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/108/Syariah_dan_Manfaatnya_untuk_Umat_Islam_di_Dunia</guid>
<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 06:38:47 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Surat Sahabat untuk Valentine</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/107/Surat_Sahabat_untuk_Valentine</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/71&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/YUEdqA1-1pwNRds6PRXFRg/photos/1M/300x300/71/heart1.png?et=%2C8VdnsmvmcAZ9WPIHmYh1A&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Tidak ada yang baru dalam masalah cinta. Dari dulu, daya tariknya luar biasa. Sehingga, membicarakannya adalah kesenangan. Mengamatinya adalah senyuman. Ada bahagia, dan itu yang manusia cari. Tersungkurlah: kekuatannya amat dahsyatnya. Bagi hati-hati yang kosong, dialah anugerah. Yang menyemai wangi, rekahkan hari. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Inilah kenapa konsep &#x22;meliberalkan cinta&#x22; nyaris sulit dibendung. Karena ini adalah harapan nafs. Dan tidak ada yang mampu membendungnya, selain rasa bahagia yang lebih tinggi dari cinta. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ah, memangnya ada?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ada, tapi mata kita enggan memerhatikan. Ada, tapi telinga kita terganggu dan tersumbat. Ada, tapi perasaan kita terlalu kuat. Jadilah kita melihat apa yang kita ingin lihat. Mendengar apa yang kita ingin dengar. Merasakan apa yang kita mau merasakan. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kawan, sedemikian panjangkah prolog hari kasih sayang?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Mungkin, sudah kau duga: ke arah mana muara risalahnya. Dan, sudah banyak juga yang bicara. Nasihat-nasihat itu melawan budaya. Padahal, valentine adalah hal biasa. Katan...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/107/Surat_Sahabat_untuk_Valentine</guid>
<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 08:14:51 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Kawan, Kita Tak Perlu Merasa Kuat Hadapi Segala Persoalan </title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/106/Kawan_Kita_Tak_Perlu_Merasa_Kuat_Hadapi_Segala_Persoalan_</link>
<description>&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/70&#x22;&#x3E;&#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/nXagls6dXRg4nlsTiZUR5w/photos/1M/300x300/70/fran133.jpg?et=XAHGc6D3z%2CXUmlCdE3rTQQ&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Ada banyak sekali hal, yang jika kita kembalikan pada hakikat kehidupan, menjadi terang-benderang. Tentang apa yang harusnya kita lakukan. Tentang apa yang harus kita pegang teguh, meski berlapis rintang dan halang. Tertawaan orang. Hina dan caci mereka tentang pilihan. Ini seperti memakai baju putih, sedang semua orang memakai baju hitam. Tentu saja: kita akan terlihat berbeda. Tentu saja, kita akan jadi pusat perhatian. Minimal, orang di sebelahmu kan bertanya-tanya, &#x22;Kenapa?&#x22; Ada yang berburuk sangka. Ada pula yang mencibir dan menemukan saja sejumlah alasan untuk mempermasalahkan baju putih yang kita kenakan. Karena kau berbeda. Karena manusia tidak terbiasa dengan orang yang berbeda. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E; Ini arus budaya. Kan selalu bergerak maju dan membentuk manusia di dalamnya. Sehingga, ketika kau tidak patuh, ada energi yang kan mendera. Sadari saja: karena memang kau sedang menantang lautan massa. Gelombang yang mendorongmu untuk tunduk segera. Jika kau hanya memilih untuk berbeda, sedang tidak ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/106/Kawan_Kita_Tak_Perlu_Merasa_Kuat_Hadapi_Segala_Persoalan_</guid>
<pubDate>Thu, 9 Feb 2012 06:03:19 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Hakikat Shalat, Tasawuf, dan Makrifat?</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/105/Hakikat_Shalat_Tasawuf_dan_Makrifat</link>
<description>   &#x3C;p&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/69&#x22;&#x3E;   &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/d7vdm7DkYJVtrUOGWgzbNQ/photos/1M/300x300/69/sufi.jpg?et=ZeRrQtep%2CUtWBWokKOPhXw&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Pernahkah kita mendengar seseorang bertanya, &#x22;Apa hakikat shalat?&#x22;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Lumayan. Bagi saya, beberapa kali bertemu bunyi-bunyian semacam. Kadang, memikirkan bagaimana cara yang tepat menjawabnya. Kadang tidak peduli sebab sejumlah hal. Mungkin akan lebih jelas bila saya menguraikan.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E; Pertama, samakan persepsi dahulu. Apa itu hakikat? Setiap orang memaknai kata ini dengan berbeda-beda, sehingga jawaban yang diberikan kemudian oleh orang lain dapat tidak dimengerti karena adanya jurang perbedaan pemaknaan. Nah, untuk penyeragaman, mari kita rujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mengartikannya. Hakikat diartikan: 1. Intisari atau dasar. Contoh, &#x22;Dia yang menanamkan hakikat ajaran Islam di hatiku.&#x22; 2. Kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya). Contoh, &#x22;Pada hakikatnya mereka orang baik-baik.&#x22; &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E; Jadi, dari sini, jika pertanyaan hakikat dikaitkan dengan shalat, berbunyi, &#x22;Apa intisari, dasar, atau kenyataan sesungguhnya dari shalat?&#x22;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E; Agak aneh, ya? Wajar kalau muncul ketidakjelasan dal...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/105/Hakikat_Shalat_Tasawuf_dan_Makrifat</guid>
<pubDate>Wed, 8 Feb 2012 02:30:37 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Tafsir Surat Al-Kautsar: Sungai Kesturi, Pesta Terima Kasih, dan Perempuan Pembawa Sial</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/104/Tafsir_Surat_Al-Kautsar_Sungai_Kesturi_Pesta_Terima_Kasih_dan_Perempuan_Pembawa_Sial</link>
<description>    &#x3C;p class=&#x22;MsoNoSpacing&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/68&#x22;&#x3E; &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignright&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/CTsvHILmqUegVQ6tDG269Q/photos/1M/300x300/68/Coret-coretan.JPG?et=fVXsZjBnFvst5AFlLq8PFw&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Sebagai umat yang hidup jauh dari &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style:normal;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Khatamul Anbiya&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/i&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;, Rasulullah Saw., penyikapan kita terhadap dua warisan beliau cukup membingungkan. Ketiadaan pemimpin&#x2014;dalam dimensi fisikal, mental, dan spiritual&#x2014;ternyata tidak membuat kita cukup menghargai peninggalan. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;  &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNoSpacing&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;Dalam konteks Al-Quran, contohnya, ada saja sebagian dari &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;muslimin&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/i&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E; yang memproduksi sikap-sikap parsial. Membacanya, tapi luput tadabbur dan memahami. Mengambil sepotong hukum, meninggalkan mozaik-mozaik lainnya karena keberatan. Mendakwahkan, akan tetapi tidak sesuai ucapan dengan perbuatannya. Ada pula fenomena para penghafal, komunitas yang saling menyemangati untuk men-&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style:normal;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;tahfidz&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/i&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;georgia, times new roman, times, serif&#x22;&#x3E;-kan Al-Quran di luar kepala. Sebuah jamaah yang luar biasa, sebenarnya. Hanya terkadang terjebak dalam beberapa ucapan-perilaku kontraproduktif. Dalam beberapa kasus yang dijumpai penulis, ditemukan &#x201C;pengagungan&#x201D; atas surat-surat panjang. Seperti Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran. Menghafalnya adalah pencapaian. Tentu saja, karena tingkat kesulitan su...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/104/Tafsir_Surat_Al-Kautsar_Sungai_Kesturi_Pesta_Terima_Kasih_dan_Perempuan_Pembawa_Sial</guid>
<pubDate>Sat, 4 Feb 2012 00:47:08 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>[Kajian] Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut Selatan?</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/journal/item/103/Kajian_Nyi_Roro_Kidul_Sang_Penguasa_Laut_Selatan</link>
<description>     &#x3C;p class=&#x22;MsoNoSpacing&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://asamulchias.multiply.com/photos/hi-res/1M/67&#x22;&#x3E;  &#x3C;img border=&#x22;0&#x22; class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;//multiply.com/mu/asamulchias/image/ym61Oed+etB18A8cLkCPXQ/photos/1M/300x300/67/Labuhan-di-Pantai-Parangtritis-2.jpg?et=B06KeH0QgFi1kQsrlXu35A&#x26;amp;nmid=0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;Sudah lazim bagi kita, bahwa manusia tidak bisa lepas dari budaya. Di mana ada manusia tinggal, maka di sana pasti ada corak kegiatan, tradisi, pola kebersamaan, tata aturan yang tak terpisahkan. Dilakukan berulang-ulang, turun-temurun. Diiyakan dan dipatuhi. Bahkan, ada sebagiannya yang&#x2014;tidak sekadar disegani&#x2014;melainkan juga menjadi keyakinan dan kewajiban. Dan, pada fase ini, budaya membentuk tindak-tanduk orang-orang. Malah, ajaibnya bisa lebih &#x201C;berpengaruh&#x201D; dari manusia itu sendiri. &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNoSpacing&#x22;&#x3E;Sebagai contoh yang terjadi hari ini adalah budaya mengagungkan berlebih sosok-sosok &#x201C;istimewa&#x201D;. Baik mereka masih hidup, sudah wafat, atau yang bahkan tidak diketahui secara pasti sejarahnya. Apakah tokoh itu asli&#x2014;atau hanya rekaan belaka? Selain mendapatkan gelar dan perlakuan yang sangat spesial, masyarakat juga mengekspresikan rasa penghormatan mereka dengan cara beraneka. Sehingga, bercampurlah berbagai rasa dan pikiran, campur aduk demikian rupa. Tumbuh rasa kagum, takut, serta cinta.&#x26;nbsp...</description>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/journal/item/103/Kajian_Nyi_Roro_Kidul_Sang_Penguasa_Laut_Selatan</guid>
<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 01:01:37 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Ada bagian dari rahmatNya, manusia bisa saling mencinta. TanpaNya, kita tak akan punya rasa. Tak mampu memahami, merasa dekat, atau bahagia. Tanpa kasih sayangNya, kita hanya kan jadi makhluk-makhluk yang asing, satu dengan yang lain. Bahwa ini adalah hadiah, karunia, yang seharusnya kita perlakukan tidak lebih besar dari Mahacinta. Sebab, ingat sekali lagi: kau mampu mencinta hari ini, itu karena Robbana. Tuhan kita semua. Lalu, bagaimana dengan manusia, yang tertatih-tatih merangkai kata cinta, hanya untuk sesama manusia? Terbelenggu pikir dan jiwa. Setiap hari hanya untuk memikirkannya. Bersenang hati karenanya. Bermuram jiwa karenanya. Hasan Al-Basri mengatakan: itu adalah kebodohan. Yang terlaluan. Yang berlebih-tak sesuai batasan. Sebenarnya, dalam masalah cinta, terkait manusia, agama membolehkan. Namun dalam tataran sewajar, bukan lewati kadar. Saat ia menjadikanmu lupa padaNya, lebih mencinta manusia dari Tuhannya, ini yang disebut fitnah. Saat ia menyihirmu hingga berani lewati ketentuanNya, ini parah luar biasa. Ah, manusia yang dimabuk cinta sesamanya: mungkin Allah menyelamatkan, mungkin juga tidak akan. Selalu ada harap untuk lebih cinta padaNya, asal kau tidak putus asa. Dan mulai menyadari: apa patut seorang hamba tidak berterima kasih dan tidak mengagumi Penciptanya? Sedang Allah tak memiliki aib sedikit jua. Padahal kita ini punya cacat-cacat besar. Yang Allah tutupi dari pandangan, dari tersyiar dan tersebar....</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/76</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/76</guid>
<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 01:32:57 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Stress is not always bad. Fear is sometimes good for us. Those feelings were given to pump the ability, to maximum quality</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/75</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/75</guid>
<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 02:22:20 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Berkah adalah serapan. Aslinya dari negeri yang disalut pasir dan unta. Baarakah: amat sering disebut, tapi tahukah apa artinya? Dia, secara mufrad, kata tunggal, bermakna: bertambah. Namun, kita sampai pada renungan. Tentang kehidupan dan sekian persamaan. Apakah harta yang bertambah sama dengan baarakah? Apakah ilmu, jabatan, dan usia yang banyak berarti sama? Betul, bila kau jawab di permukaan. Tetapi kau kan kehilangan hal penting dari pembahasan. Bahwa, yang menandakan keberkahan bukanlah penambahan fisikal, tapi masalah keimanan. Ketika hartamu menumpuk, lalu malah membuatmu terlewat ibadah karena sibuk, itu persoalan. Bila ilmu bertambah, namun kau makin tak segan meremeh manusia, itu bencana. Bila usia tua tak membuatmu sadar: perjumpaan dan pengadilan kan segera tiba, itu celaka. Ada masalah dengan dirimu dan semua hadiah indah, yang terlanjur kaupikir semua baik-baik saja. Tengok fenomena sebaliknya, di mana ada orang yang bertambah harta, makin mudah pula ia menginfakkan di jalan Tuhannya. Ada manusia yang makin dalam ilmunya, makin berhati-hati dia berkata dan menyikapi kasus-kasus yang ada. Ada insan yang makin tua, makin takut dan khusyuk ibadah-ibadahnya. Jangan tertipu, ya Saudara-saudari. Tanda berkah itu kita bisa telusuri. Jauh ke dalam hati. Tak butuh retorika dan basa-basi. Sebut satu per satu nikmat Allah yang beri. Dan rasakan: apakah itu membuatmu makin dekat, atau malah semakin nekad. Mensyukuri dan bertaubat. Atau malah menanti sekarat dalam maksiat....</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/74</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/74</guid>
<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 09:32:01 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Berharap pada manusia untuk membalas sesuai kehendak kita? Pasti kecewa. Beban kita atas saudara kita yang lain adalah berlaku baik saja, tidak perlu berharap sebaliknya. Kepada Allah-lah kita mengharap balasan, bukan pada manusia. Kalau kita marah karena ada muslim lain yang mencap kita ini-itu, padahal kita sudah berupaya berbuat baik pada mereka, itu tanda: kita perlu introspeksi sejenak saja. Jadi, kita berbuat baik pada mereka itu karena apa? Kalau karena Allah, insya Allah sudah sampai niatnya dan akan diganjar kebaikan yang lebih besar di sisi-Nya. Lalu, marah-marah dan kecewa itu perlu ada karena alasan yang mana? Beban kita atas sebagian muslim yang gemar menghukumi saudara-saudari lainnya atas dasar pemahaman mereka adalah bersabar. Bersabar dari membalas dengan kata-kata kasar, keji, atau malah yang lebih pedas lagi. Kita harus berhenti dari pola pembalasan yang sama. Kita tidak perlu mengulang-ulang kesalahan masa lalu. Sebab bisa jadi Allah tengah menguji keikhlasan kita lewat perantaraan mulut-mulut itu. Jika kita melakukan ini semua karena Allah, insya Allah tidak akan ada sedikit pun benci yang Allah susupkan di hati. Meski kita dituding itu-ini. Meski kita dicap macam-macam lagi. Sekali lagi: ini antara kita dan Allah. Kita berlaku baik karena Allah, dan kepada Allah saja kita berharap ganjarannya. Masalah orang lain tidak merespon baik atas perlakuan baik kita, ya itu urusan mereka sama Allah. Kita tidak perlu pusing, apalagi marah-marah. Semoga Allah menganugerahi kita qalbun saliim. Yang tenang dan menahan diri. Semuanya demi Ilahi....</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/73</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/73</guid>
<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 05:56:01 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Dalam masalah syariah, ketat memang. Kau kan temukan dia tidak pandang buku, teguh dan kokoh. Sehingga terdidiklah para shahabat untuk memegang sempurna. Meski demikian, tak menjamin tak ada beda dalam penerapannya. Misal, Abu Hurairah riwayatkan: bismillah itu jahr dalam shalat. Sedang Anas bin Malik justru sebut sebaliknya. Begitupun kisah dua orang yang mendapat perintah untuk pergi ke sebuah kota dan dilarang henti sebelum sampai di sana. Ketika dalam perjalanan, adzan kumandang. Keduanya berdiskusi, tapi tak bertemu sepakat. Sehingga, satu tetap berjalan. Satu, menjeda dan dirikan shalat. Hal itu diadukan pada Rasul, dan tidak ada yang disalahkan. Inilah kemudahan atas perbedaan pendapat. Kebanyakan bentrokan akhir-akhir ini karena membela masalah furu&#x27;, bukan ushul. Membela perkara sunnah seperti hitam-putih, padahal sangat mungkin di mata Allah, pendapat-pendapat itu diterima. Lagipula, lihatlah dalam perspektif baru, fiqhud dakwah. Untuk kemashlahatan Islam, kadang kita perlu melakukan sesuatu yang &#x201C;melawan&#x201D; syariat. Contoh: ketika di Madinah tengah direncanakan Futtu Makkah, seseorang mendengar dan mengirim orang untuk mengabari keluarganya di Makkah. Rasulullah mengetahui situasi dan mengirim dua orang untuk mencegahnya. Khawatir bocor rencana ke telinga orang kafir di sana. Maka, dikirimkanlah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang kemudian menemukan wanita yang sedang mengantarkan surat berisi kabar. Lalu, dimintalah surat itu, tapi wanita itu berbohong, mengaku tidak membawa. Ali mengancamnya, memaksanya mengaku, bila tidak mengaku akan dilucuti pakaiannya. Wanita itu gentar, lalu mengakui dustanya. Dalam Islam, perbuatan Ali tidaklah benar. Tapi lihat konteks keadaan dan apa yang terjadi bila wanita itu dibiarkan. Kaidah fiqih tidak boleh dilupakan: mengambil mudharat yang lebih kecil dibolehkan atas mudharat yang lebih besar. Allahu a&#x27;lam.... </title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/72</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/72</guid>
<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 03:29:13 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Belanda pernah membesar-besarkan: masalah khilafiyah di tengah umat. Dibiasakan, didengung-dengung, agar orang-orang muslim di negeri ini menghabiskan pikiran untuk memilih: mana yang benar. Menjatuhkan yang satu, menjunjung golongan. Demikian latar belakang, sehingga kita, hari ini, terbudaya untuk menggagas kemenangan sepihak. Bukan bersatu, menegakkan yang hak. Padahal, jika kau pelajari Al Quran, kau kan temukan: bersatu itu perintah. Sedang kita menggadang-gadang perbedaan atas nama membela Sunnah. Nah, bukannya ini rancu? Bagaimana kau membela kebenaran dengan membunuh kebenaran lainnya? Cari dalil ini-itu untuk membenarkan tindakan, padahal kau tahu betul: itu tidak meluruskan kengawuran. Mayoritas dari kita adalah korban kebudayaan, kepentingan, dan kebodohan. Lingkungan, itu penyebabnya. Lihatlah di mana kau tumbuh, dengan siapa kau bergaul, dan siapa yang mengajarkan padamu adab dan perilaku. Dari situ kau berujuk dan meniru. Sedang kau lebih peduli dengan masa lalu, bukan menatap masa depan yang kau ciptakan: dari serpih-serpih ketidakmauan membuka cakrawala. Amat besar kondisi-masalah umat. Dan meleherbotolnya perilaku sebagian orang yang mengaku hendak memperbaikinya</title>
<link>http://asamulchias.multiply.com/notes/item/70</link>
<guid isPermaLink="true">http://asamulchias.multiply.com/notes/item/70</guid>
<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 10:01:08 -0000</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
